Selasa, 23 April 2013

Alasan Melakukan Perdagangan Internasional


ALASAN MELAKUKAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Negara-negara melakukan perdagangan internasional karena dua alasan utama; Pertama, negara-negara berdagang karena mereka berbeda satu sama lain. Kedua, negara-negara berdagang satu sama lain dengan tujuan mencapai skala ekonomis (economies of scale) dalam produksi.
            Untuk memahami pola perdagangan tersebut, kita mulai dengan membayangkan bahwa kita menghadapi suatu perekonomian yang  hanya memiliki satu faktor produksi, yaitu tenaga kerja. Kita bayangkan pula bahwa perekonomian hanya menghasilkan dua barang, anggur (wine) dan keju (cheese). Jumlah kebutuhan tenaga kerja diukur dengan jumlah jam kerja yang diperlukan untuk memproduksi satu kg keju atau satu galon anggur. Sumber daya total yang dimiliki oleh perekonomian dilambangkan dengan L, yaitu penawaran tenaga kerja total.
            Mengingat setiap perekonomian menghadapi keterbatasan sumber daya, maka terdapat pembatas-pembatas terhadap apa yang bisa diproduksi, dan kita selalu harus memilih; untuk memproduksi satu barang lebih banyak kita harus mengurangi produksi barang lain. Pilihan-pilihan ini dicenninkan oleh suatu garis yang disebut batas kemungkinan produksi (production possibility frontier).

PERDAGANGAN DALAM DUNIA YANG HANYA TERDIRI DARI SATU FAKTUR PRODUKSI
Anggaplah hanya ada dua negara. Kita namakan kedua negara ini masing-masing Domestik dan Asing. Setiap negara hanya memiliki satu faktor produksi (tenaga kerja) dan dapat memproduksi dua barang, anggur dan keju. Jumlah angkatan kerja di Domestik adalah L dan kebutuhan tenaga kerja untuk menproduksi anggur dan keju berturut-turut adalah aLW dan aLC. Dalam mengidentifikasi negara asing, kita memanipulasi  notasi dengan menambahkan tanda (*) di atas notasi yang digunakan untuk negara Domestik. Dengan demikian angkatan kerja di negara Asing menjadi L*; kebutuhan tenaga kerja untuk memproduksi susu dan keju masing-masing a*LW  dan a*LC Demikian pula untuk yang lainnya.
Kita mengasumsikan bahwa kebutuhan tenaga kerja di sektor keju terhadap anggur lebih rendah di Domestik dari pada di Asing. Atau, kita dapat mengatakan bahwa produktivitas relatif Domestik: di sektor keju lebih tinggi dibandingkan dengan di sektor anggur. Dalam kasus ini, kita akan mengatakan bahwa Domestik memiliki keunggulan komparatif dalam produksi keju.
MENENTUKAN HARGA RELATIF SETELAH PERDAGANGAN
Harga barang-barang yang diperdagangkan secara internasional, seperti harga barang-barang lainnya, ditentukan oleh penawaran dan permintaan. Namun, dalam membahas keunggulan komparatif, kita hurus menerapkan "analisis penawaran dan permintaan" dengan hati-hati. Yang diperlukan adalah analisis keseimbangan umum (general equilibrium analysis) yang memperhitungkan keterkaitan antara kedua pasar.
Salah satu cara yang bermanfaat untuk memadukan kedua pasar menjadi satu adalah dengan tidak hanya menitikberatkan pada jumlah keju dan anggur yang ditawarkan dan yang diminta, tetapi juga pada penawaran dan permintaan relatif, yaitu pada jumlah keju yang ditawarkan atau yang diminta dibagi dengan jumlah anggur yang ditawarkan atau yang diminta.
KEUNTUNGAN PERDAGANGAN (THE GAINS FROM TRADE)
Perdagangan yang saling menguntungkan ini dapat ditunjukkan dengan dua cara.
Cara pertama untuk menunjukan bahwa spesialisasi dan perdagangan akan saling menguntungkan adalah dengan membayangkan perdagangan sebagai metode produksi tak langsung. Domestik dapat menghasilkan anggur secara langsung, tetapi perdagangan dengan  Asing memungkinkan negara tersebut untuk “menghasilkan” anggur dengan memproduksi keju dan kemudian mempertukarkan keju dengan anggur. Metode tak langsung dalam “menghasilkan” satu galon anggur merupakan cara yang lebihn efisien dibandingkan dengan produksi langsung.
Cara lain untuk melihat perdagangan yang saling menguntungkan adalah dengan meninjau bagaimana perdagangan mempunyai dampak kepada pilihan¬pilihan dalam mengkonsumsi di setiap negara. Tanpa perdagangan, pilihan¬pilihan konsumsi sama dengan kemungkinan-kemungkinan produksi. Namun, dengan terjadinya perdagangan, setiap perekonomian dapat mengkonsumsi berbagai kombinasi keju dan anggur yang berbeda dengan kombinasi produksinya.
BEBERAPA KERANCUAN TENTANG KEUNGGULAN KOMPARATIF
Tiga kerancuan berikut, sebagai contoh, membuktikan secara gamblang, dan model sederhana kita tentang keunggulan komparatif dapat digunakan untuk meninjau mengapa mereka melakukan kesalahan.
PRODUKTIVITAS DAN DAYA SAING
Mitos l: Perdagangan bebas hanya menguntumgkan jika negara Anda cukup produktif dalam menghadapi persaingan internnsional.
Argumentasi ini, sangat kerap digunakan dalam kasus negara-negara berkembang, menyatakan bahwa negara-negara miskin harus menutup diri dari perekonomian internasional sampai mereka cukup kuat untuk bersaing.
HUJAH TENAGA KERJA MURAH (SWEATSHOP LABOR ARGUMENT)
Mitos 2:Persaingan internasional adalah tidak adil dan merugikan negara¬negara tertentu jika didasarkan kepada upah rendah.
Argumentasi ini kadang¬kadang dikatakan sebagai argumentasi tenaga kerja murah (sweatshop labor argument), terutama digunakan oleh serikat buruh untuk menuntut perlin¬dungan terhadap persaingan luar negeri. Orang yang bertolak dari keyakinan ini mendesak agar industri-industri dalam negeri tidak boleh dipecundangi oleh industri-industri 1uar  negeri yang kurang efisien, tapi  membayar upah lebih rendah.
PERTUKARAN TAK SETARA (UNEQUAL EXCHANGE)
Mitos 3: Perdagangan mengeksploitasi suatu negara dan membuatnya menjadi lebih buruk jika negara tersebut menggunakan lebih banyak tenaga kerja dalam memproduksi barang-barang yang diekspor dibandingkan dengan negara-negara lain yang memproduksi barang-barang untuk kemudian diekspor kenegaran pertama. Argumentasi ini, kadang-kadang disebut doktrin pertukaran tak setara (unequal exchange), bersumber dari gagasan Marxis yang memahami bahwa nilai (harga) tercipta semata-mata oleh pekerja, dan cenderung dijadikan dalih oleh dunia ketiga untuk menganjurkan redistribusi pendapatan dari negara-negara maju.
Meskipun gagaaan bahwa suatu negara dieksploitasi jika ekspornya menyerap lebih banyak pekerja dibandingkan dengan impor cukup masuk akal, namun pertukaran tak setara tak berarti bahwa negara dengan upah rendah menderita kerugian dalam melakukan perdagangan.
KEUNGGULAN KOMPARATIF DENGAN BANYAK BARANG
Kembali kita membayangkan dunia yang hanya terdiri dari dua Negara, Domestik dan Asing. Sama dengan kasus sebelumnya, setiap negara diasumsikan mengkonsumsi dan dapat memproduksi banyak barang, katakanlah N jenis barang sekaligus. Kita nyatakan sajam setiap barang dengan nomor, dari 1 sampai N.
Teknologi di setiap negara dapat dijelaskan oleh jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk masing-masing barang, yaitu jumlah jam kerja yang dibutuhkan dalam memproduksi setiap satu unit barang. Jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk setiap barang di Domestik kita lambangkan dengan aLI’ dimana i adalah jumlah barang. Jika keju kita tempatkan sebagai barang nomor 7, maka aL7 berarti jumlah kebutuhan tenaga kerja dalam produksi keju. Sesuai dengan aturan yang biasa kita gunakan, kita melamgbangkan jumlah kebutuhan tenaga kerja di Asing dengan a*LI’.
Untuk menganalisis perdagangan, kita perlu menggunakan lebih dari satu muslihat. Untuk suatu barang kita dapat menghitung aLI/ a*LI’, nisbah jumlah kebutuhan tenaga kerja Domestik terhadap Asing. Muslihat ini adalah untuk menberikan lambang kepada barang-barang sedemikian rupa sehingga semakin kecil nomornya, semakin rendah pula rasionya. Dengan demikian
aL1/ a*L1  <  aL2/ a*L2 <  aL3/ a*L3  … < aLN/ a*LN                 
           
Tabel dibwah menyajikan contoh numerik, di mana Domestik dan Asing sama-sama mengkonsumsi dan dapat memproduksi lima barang: apel, pisang, telur ikan (kaviar), kurma, dan encilada.
Dua kolom pertama dari tabel ini sudah cukup jelas. Kolom ketiga adalah nisbah antara kebutuhan tenaga kerja di Asing dengan kebutuhan tenaga kerja di Donestik untuk setiap barang-atau, keunggulan produktivitas relatif Domestik untuk setiap barang. Kita telah melambangkan barang-barang tersebut dan mengurutkannya berdasarkan keunggulan produktivitas Domestik, dengan keunggu1an terbesar pada apel dan terkecil pada encilada.
Jumlah kebutuhan tenaga kerja Domestik dan Asing



Barang

Kebutuhan
Tenaga Kerja
di Domestik (a/Li)
 

Kebutuhan
Tenaga Kerja
di Asing (a*Li)

Keunggulan Produktivitas Relatif Domestik (a*Li/aLi)

Apel

Pisang

Telur Ikan

Kurma

Encilada


1

5

3

6

12

10

40

12

12

9


10

8

4

2

0,75

Penentuan barang apa saja yang diproduksi oleh setiap negara tergan¬tung kepada nisbah tingkat upah di Domestik dan Asing. Domestik akan mempunyai keunggulan biaya pada barang yang produktivitas relatifnya lebih tinggi dari tingkat upah relatif, dan Asing akan memiliki keunggulun pada barang-barang lainnya. Jika, misalnya, tingkat upah di Domestik 5 kali lipat dari Asing, apel dan pisang akan diproduksi di Domestik dan telur ikan, kurma dan encilada di Asing. Jika tingkat upah di Domestik hanya 3 kali lipat dari Asing, Domestik akan memproduksi apel, pisang dan telur ikan, sementara Asing hanya akan memproduksi kurma dan encilada.
BUKTI-BUKTI EMPIRIS DARI MODEL RICARDIAN
Model Ricardian tentang perdagangan internasional merupakan alat yang sangat bermanfaat untuk memahami alasan-alasan mengapa perdagangan bisa terjadi bermanfaat untuk memahami alasan-alasan mengapa perdagangan bisa terjadi, dan dampak perdagangan internasional terhadap kesejahteraan. 
Memang ada berbagai hal yang membuat prediksi-prediksi model Ricardian bisa menyesatkan. Pertama, sebagaimana yang telah diutarakan  dalam pembahasan tentang barang-barang tak diperdagangkan (non-traded goods) pada bagian sebelumnya, model Ricardian sederhana memprediksi suatu tingkat spesialisasi yang ekstrim sehingga kita tidak menjumpainya di dunia nyata. Kedua, model Ridardian juga mengabaikan dampak perdagangan internasional terhadap distribusi pendapatan didalam suatu Negara, dan karena itu memprediksi bahwa Negara secara keseluruhan akan selalu memperoleh keuntungan perdagangan; kenyataan perdagangan internasional mempunyai dampak yang kuat terhadap distribusi pendapatan, yang merupakan pokok bahasan Bab 3. Ketiga, model Ricardian tidak memberi tempat bagi perbedaan-perbedaan di dalam sumber daya (resources) di antara Negara-negara sebagai penyebab perdagangan internasional, sehingga menghilangkan satu aspek penting dari sistem perdagangan (merupakan inti bahasan Bab 4). Terakhir, model Ricardian mengabaikan kemungkinan peran skala ekonomis (economies of scale) sebagai penyebab perdagangan, sehingga tak dapat menjelaskan lalu lintas perdagangan yang besar antara negara-negara yang sangat serupa dalam pemilikan karunia sumber – persoalan yang dibahas pada Bab 6.
Namun, terlepas dari kelemahan-kelemahan ini, prediksi pokok dari model Ricardian – bahwa negara-negara  hendaknya mengekspor barang-barang yang mana negara tersebut memiliki produktivitas yang relative tinggi telah diperkuat oleh sejumlah penelitian selama bertahun-tahun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar